Bogor | Detak Media.com
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi di Selat Sunda pada awal September 2026 memberikan dampak hingga ke sejumlah wilayah, termasuk Bogor. Sebaran abu vulkanik dilaporkan mencapai wilayah Bogor Raya dan ditemukan menempel pada kendaraan, rumah maupun lingkungan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama karena abu vulkanik tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan apabila paparan terjadi secara terus-menerus.
Pemimpin Redaksi Majalah Mata Lensa, Ika Candra Dewi, S.H., mengatakan bahwa situasi tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana dan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung api.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Ketika terjadi sebaran abu vulkanik, masyarakat harus mengikuti informasi dan imbauan dari pemerintah maupun lembaga resmi agar dapat mengambil langkah yang tepat,” ujar Ika.
Menurutnya, masyarakat juga perlu memahami bahwa informasi mengenai bencana harus disampaikan secara bertanggung jawab. Di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Dalam situasi seperti ini, informasi yang benar sangat penting. Jangan sampai masyarakat justru dibuat panik oleh informasi yang tidak jelas sumbernya. Media memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, peran media bukan hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga membantu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
Pemerintah Kabupaten Bogor sebelumnya mengambil langkah mitigasi dengan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik pada 7–8 September 2026 sebagai respons terhadap sebaran abu vulkanik. Kebijakan tersebut mencakup jenjang PAUD/TK, SD, SMP hingga satuan pendidikan nonformal.
Sementara itu, Pemerintah Kota Bogor juga melakukan pemantauan kualitas udara serta mengimbau kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, penderita asma, alergi, serta masyarakat dengan gangguan jantung dan pernapasan untuk meningkatkan kewaspadaan dan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.
Ika Candra Dewi menilai langkah mitigasi tersebut perlu didukung seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, penanganan dampak bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian dan kesadaran bersama.
“Kita harus saling mengingatkan. Gunakan perlindungan yang diperlukan ketika beraktivitas di luar rumah, perhatikan kondisi kesehatan, dan selalu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak berlebihan dalam menyikapi fenomena tersebut.
“Yang terpenting adalah tetap tenang, waspada, dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Dalam kondisi bencana, kepanikan justru dapat menimbulkan persoalan baru,” tambahnya.
Menurut Ika, peristiwa sebaran abu vulkanik tersebut sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana.
Majalah Mata Lensa berkomitmen untuk terus menghadirkan informasi yang faktual, edukatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Media, kata Ika, harus hadir bukan hanya ketika sebuah peristiwa terjadi, tetapi juga membantu masyarakat memahami risiko dan mengambil langkah yang tepat.
“Media harus menjadi bagian dari solusi. Kami ingin Majalah Mata Lensa tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga memberikan edukasi dan informasi yang dapat membantu masyarakat menghadapi berbagai situasi, termasuk bencana alam,” pungkasnya. (Red)
![]()
