Oleh: Adian Napitupulu

 

Jakarta – Apa saja yang di hasilkan oleh Reformasi? Lahirnya puluhan partai politik, lahirnya puluhan serikat pekerja nasional, sektoral maupun lokal, lahirnya puluhan bahkan ratusan media massa tanpa kekhawatiran dibredel, Pilkada tidak lagi dipilih oleh DPRD tapi langsung oleh Rakyat, Pemilihan Legislatif dan Presiden juga langsung dipilih Rakyat, lahirnya KPK, dibentuknya Mahkamah Konstitusi, pembatasan masa jabatan Presiden dan sekian banyak perubahan dan kebebasan yang saat ini dinikmati oleh Rakyat Indonesia.

Selain gempita buah Reformasi, di sudut sepi sana ada beberapa orang tua yang anaknya gugur ditembak di Trisakti 12 Mei, 24 tahun yang lalu.

Tahukah kita bahwa ketika ada yang tertawa riang saat pelantikan jabatan maka di saat yang sama, mata para ibu itu masih sembab dan terus berlinang. Saat ada pesta kemenangan Gubernur maka pada saat yang sama hati para ibu itu masih pedih berduka.

Saat ratusan Bupati dan ribuan anggota DPR/D dilantik dengan dandanan yang gagah atau cantik maka pada saat yang sama bibir para ibu itu masih sering mengucap nama anaknya sembari menciumi dan memeluk foto anak anak mereka.

Yang berpesta, yang tertawa, yang berdandan mewah itu mungkin lupa bahwa semua bisa mereka nikmati karena pengorbanan jiwa anak dari para ibu itu.

Anak anak muda pemberani itu gugur menjadi Pahlawan Reformasi. Dan sejak 24 tahun lalu hingga hari ini “tetesan darah” mereka dinikmati oleh banyak orang dalam bentuk kebebasan dan terbuka nya peluang bagi setiap orang tanpa perduli kaya atau miskin, tanpa perduli bangsawan atau bukan.

Setelah 24 tahun berlalu, mungkin banyak yang sudah melupakan orang tua korban tapi hari ini (25 April 2022) Menteri BUMN, Erick Thohir beserta jajaran BUMN termasuk Dirut dan Wadirut BTN mengundang para orang tua korban untuk buka puasa bersama.

Erick Thohir menyalami dan memeluk mereka satu persatu lalu memegang tangan ibu ibu korban untuk berdiri di sampingnya dan selanjutnya Erick Thohir memberikan masing masing keluarga sebuah rumah layak huni di wilayah yang dipilih sendiri oleh keluarga korban.

Tentu rumah itu berapapun harganya tak akan pernah mampu mengganti nyawa, tak akan pernah bisa menebus sakitnya hati seorang ibu yang anaknya di tembak mati.

Kepedulian Erick Thohir mungkin akan dinyinyiri dan dipandang negatif dengan beragam spekulasi Namun demikian terlepas lupa jutaan orang, terlepas cibiran dan spekulasi tapi apa yang dilakukan oleh Erick Thohir menunjukan satu sikap bahwa dia tidak lupa pada perjuangan Reformasi 98.

Dia tidak lupa pada pengorbanan mereka yang gugur di Trisakti, dia tidak lupa pada derita keluarga korban. Kepedulian Erick Thohir adalah kata dalam tindakan yang menunjukan pada keluarga korban bahwa mereka tidak sendirian.

Akhir kata, walau saya dan Erick Thohir kerap berbeda, tapi saya sebagai Sekjen Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) ikut mengucapkan salut, hormat dan terima kasih atas kepedulian Menteri Erick Thohir yang memberikan rumah untuk empat keluarga korban Trisakti. (Tom)

Loading

By redaksi